Pengalaman Menenangkan di Situ Lengkong Panjalu

Ada tempat yang tidak hanya menjadi tujuan untuk sekadar mengisi waktu luang, tetapi juga menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan merenung. Situ Lengkong Panjalu di Ciamis, Jawa Barat, adalah salah satunya. Danau ini tidak menawarkan gemerlap atraksi atau keramaian yang memancing adrenalin. Ia justru menghadirkan ketenangan, cerita lama, dan ruang hening yang perlahan mengajak kita menata ulang ritme hidup.
Situ Lengkong Panjalu merupakan danau alami dengan luas sekitar 57,95 hektar. Di tengahnya terdapat sebuah pulau kecil seluas kurang lebih 9,25 hektar yang dikenal sebagai Pulau Nusa Gede, atau oleh masyarakat setempat juga disebut Nusa Larang. Pulau inilah yang sejak berabad-abad lalu menjadi pusat sejarah, spiritualitas, dan tradisi masyarakat Panjalu.
Saya datang ke Situ Lengkong Panjalu bukan hanya karena tertarik pada kisah masa lalunya, tetapi juga karena alasan yang lebih personal. Lokasinya tidak jauh dari rumah mertua saya di Ciwalen, Panumbangan, Ciamis. Rumah tersebut berada di antara Pondok Pesantren Suryalaya Abah Anom dan kawasan Situ Panjalu. Selama ini, nama danau ini sering terdengar dalam obrolan keluarga. Namun, baru kali ini saya benar-benar meluangkan waktu untuk datang dan menyelami suasananya.
Perjalanan menuju Situ Panjalu terasa seperti proses meninggalkan hiruk-pikuk secara perlahan. Jalan desa yang relatif tenang, pemandangan rumah-rumah sederhana, dan udara Ciamis yang masih segar membuat pikiran ikut melambat. Lokasi danau ini berada di pusat Desa Panjalu dan mudah dijangkau, baik dari arah Ciamis maupun Tasikmalaya. Pengunjung bisa datang menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum menuju Panjalu. Area parkir tersedia dan dikelola oleh warga sekitar dengan cara yang bersahaja.
Suasana Tenang di Tepi Danau
Sesampainya di tepi danau, suasana langsung terasa berbeda. Air danau terbentang tenang, memantulkan langit dan pepohonan yang mengelilinginya. Tidak banyak suara yang terdengar, selain hembusan angin, riak air, dan sesekali perahu yang melintas perlahan. Di tengah danau, Pulau Nusa Gede tampak berdiri diam, seolah menjadi penjaga cerita lama yang tidak tergesa untuk diceritakan.
Saya berkunjung ke Situ Lengkong Panjalu bersama istri, anak, mertua, dan beberapa kerabat. Kebersamaan keluarga ini membuat perjalanan terasa lebih hangat dan bermakna. Tidak ada agenda padat. Kami datang untuk berjalan, melihat, dan mendengar.
Salah satu aktivitas utama di Situ Lengkong Panjalu adalah menyeberang ke Pulau Nusa Gede menggunakan perahu tradisional. Perahu-perahu kayu berjajar di tepi danau dan dikelola oleh masyarakat setempat yang juga berperan sebagai pemandu. Untuk memasuki kawasan danau, pengunjung dikenakan tiket sekitar Rp 7.500 per orang per Maret 2024. Sementara biaya naik perahu bervariasi, biasanya berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 25.000 per orang, tergantung kesepakatan dan rute yang diinginkan. Tawar-menawar menjadi hal yang wajar dan dilakukan dengan suasana cair.
Ketika perahu mulai bergerak, suasana seketika berubah. Air danau terbelah pelan oleh kayuhan. Tidak ada suara mesin, hanya percikan air yang ritmis. Anak saya memperhatikan riak air dengan penuh rasa ingin tahu, sementara orang-orang dewasa lebih banyak terdiam, menikmati momen tanpa gangguan.
Cerita yang Mengalir di Atas Perahu
Di atas perahu inilah cerita tentang Situ Lengkong Panjalu mulai mengalir. Para pemandu berkisah tentang Pulau Nusa Gede sebagai pusat sejarah Panjalu. Di pulau tersebut terdapat makam Prabu Borosngora, yang juga dikenal sebagai Sayid Ali, beserta keluarganya. Ia dikenal sebagai tokoh penting dalam penyebaran Islam di wilayah Ciamis dan sekitarnya. Selain itu, pulau ini juga menjadi lokasi pelaksanaan upacara adat Ngabungbang, sebuah tradisi yang masih dijaga hingga kini.
Cerita-cerita itu disampaikan dengan nada tenang, tanpa upaya membesar-besarkan legenda. Justru karena disampaikan secara sederhana, kisah-kisah tersebut terasa hidup. Seperti cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, bukan untuk dipamerkan, melainkan untuk diingat dan dihormati.
Perahu berputar perlahan mengelilingi danau sebelum merapat ke pulau. Dari tengah danau, Situ Lengkong Panjalu tampak semakin luas dan teduh. Pepohonan rindang di sekelilingnya berfungsi seperti pagar alami yang menjaga keseimbangan ekosistem dan ketenangan suasana.
Ketenangan di Pulau Nusa Gede
Saat menjejakkan kaki di Pulau Nusa Gede, nuansa langsung terasa berbeda. Ada ketenangan yang lebih dalam. Pulau ini bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang sakral. Pengunjung diingatkan untuk menjaga sikap, berbicara pelan, dan menghormati pantangan adat yang berlaku. Kesadaran akan batas-batas ini justru membuat kunjungan terasa lebih bermakna.
Berjalan di pulau kecil yang dikelilingi pepohonan besar, saya merasa seperti memasuki ruang yang dijaga oleh waktu. Tidak ada bangunan megah atau fasilitas modern. Yang ada hanyalah alam, makam, dan keheningan yang mengajak kita menurunkan langkah.
Bagi keluarga kami, kunjungan ini menjadi pengalaman belajar bersama. Anak saya mulai memahami bahwa tidak semua tempat bisa diperlakukan sebagai ruang bermain. Para orang tua menemukan ruang untuk mengenang dan merenung. Sementara saya sendiri merasa seperti sedang berdialog dengan masa lalu, bukan melalui teks sejarah, tetapi melalui suasana.
Daya Tarik yang Unik
Daya tarik Situ Lengkong Panjalu justru terletak pada kemampuannya menjaga keseimbangan. Alam tetap terawat, sejarah tetap dihormati, dan kehidupan masyarakat berjalan apa adanya. Tidak ada kesan tempat ini dipaksa menjadi objek wisata massal. Semua tumbuh secara organik.
Kedekatan kawasan ini dengan Pondok Pesantren Suryalaya Abah Anom juga memberi warna tersendiri. Wilayah Panjalu sejak lama dikenal sebagai ruang spiritual dan pendidikan karakter. Tidak mengherankan jika suasana di sekitar danau terasa teduh, seolah nilai-nilai ketenangan dan kesederhanaan telah lama mengendap di tanah ini.
Saat perahu membawa kami kembali ke tepian, saya menyadari bahwa kunjungan ini bukan sekadar perjalanan singkat. Ia adalah pengalaman belajar tentang bagaimana sebuah komunitas merawat warisan tanpa harus menjadikannya tontonan.
Situ Lengkong Panjalu mengajarkan bahwa wisata tidak selalu identik dengan keramaian. Bahwa keindahan bisa hadir dalam kesunyian. Bahwa sejarah tidak harus dikemas berlebihan agar tetap hidup.
Dalam perjalanan kembali ke rumah mertua di Ciwalen, pikiran terasa lebih ringan. Bukan karena menemukan hal baru yang spektakuler, tetapi karena kembali menemukan rasa pelan yang sering kita abaikan.
Situ Lengkong Panjalu tidak menawarkan pelarian dari kehidupan. Ia justru mengingatkan kita untuk menjalaninya dengan lebih sadar, lebih tenang, dan lebih menghargai jejak waktu. Mungkin itulah daya tarik terbesarnya. Ia tidak berusaha memukau. Ia hanya menyediakan ruang bagi siapa pun yang mau datang, diam, mendengar, dan menghormati. Dan bagi saya, itu sudah lebih dari cukup.