Amerika Serikat Bombardir 7 Negara Tahun 2025, Terkini Venezuela

Erlita Irmania
By -
0

Operasi Militer Amerika Serikat di Berbagai Negara Tahun 2025

Pada tahun 2025, Amerika Serikat kembali menjadi pusat perhatian dunia karena berbagai operasi militer yang dilakukannya. Dari Amerika Latin hingga Timur Tengah, serangkaian aksi militer Washington mencerminkan kebijakan luar negeri yang sangat bergantung pada kekuatan militer.

Venezuela dan Kawasan Karibia

Amerika Serikat mengonfirmasi telah menyerang sebuah fasilitas dermaga di wilayah Venezuela pada akhir 2025. Serangan ini menandai aksi militer pertama AS di daratan Venezuela sejak Washington mulai menargetkan kapal-kapal Venezuela di Laut Karibia dan Samudra Pasifik timur pada September 2025.

Presiden Donald Trump menyatakan bahwa terjadi “sebuah ledakan di Venezuela” di lokasi yang menurut AS biasa digunakan kapal-kapal pengangkut narkoba. Ia mengklaim bahwa fasilitas tersebut sebagai “area implementasi” dan menyatakan lokasi itu “tidak ada lagi sekarang”.

Selain serangan ke daratan, AS juga menyita dua kapal tanker minyak di lepas pantai Venezuela pada Desember 2025, yang diklaim sebagai bagian dari “armada bayangan” pengangkut minyak bersanksi. Serangan AS ke Venezuela terus berlanjut hingga awal Januari 2026 yang berujung pada operasi militer berskala besar dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026).

Nigeria

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Nigeria pada Hari Natal, 25 Desember 2025. Trump menyebut serangan tersebut sebagai aksi “kuat dan mematikan” terhadap kelompok yang diklaim berafiliasi dengan ISIS di Negara Bagian Sokoto, Nigeria barat laut. Serangan ini menyusul tekanan diplomatik Washington terhadap Abuja terkait tuduhan “genosida terhadap umat Kristen”, yang dibantah keras pemerintah Nigeria.

Somalia

Amerika Serikat secara signifikan meningkatkan serangan udara di Somalia sepanjang 2025. Washington menargetkan kelompok al-Shabab dan ISIS-Somalia, dua kelompok bersenjata yang aktif di wilayah tersebut. Sedikitnya 111 serangan tercatat dilakukan AS di Somalia tahun ini, menurut lembaga pemantau konflik.

Suriah

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke 70 lokasi ISIS di Suriah pada 19 Desember 2025. Serangan tersebut dilakukan sebagai balasan atas penembakan di Palmyra yang menewaskan dua tentara AS dan seorang penerjemah sipil. Trump menyatakan serangan lanjutan akan menyusul jika diperlukan.

Iran

Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir utama Iran pada 22 Juni 2025. Serangan tersebut menargetkan Natanz, Isfahan, dan Fordow, yang terlibat dalam pengayaan uranium. Trump mengatakan serangan itu bertujuan menghentikan “ancaman nuklir” Iran.

Yaman

Amerika Serikat terus menggempur kelompok Houthi di Yaman sepanjang awal 2025. Serangan meningkat menjadi hampir setiap hari pada Maret 2025 dalam operasi bernama Operation Rough Rider. Kementerian Kesehatan Yaman menyebut sedikitnya 123 orang tewas, sebagian besar warga sipil.

Irak

Amerika Serikat melancarkan serangan udara ke Provinsi Anbar, Irak, pada 13 Maret 2025. Serangan tersebut menewaskan wakil pimpinan ISIS, Abdallah “Abu Khadijah” al-Rifai. Trump menyatakan bahwa pemimpin buronan ISIS di Irak telah terbunuh.

Kritik terhadap Kebijakan Militer Trump

Trump sebelumnya berjanji akan mengakhiri keterlibatan Amerika Serikat dalam konflik asing. Namun, kritik terhadap kebijakan Trump menyebut bahwa kebijakan luar negeri Washington masih sangat bertumpu pada kekuatan militer di tengah dinamika geopolitik global. Sarang Shidore dari Quincy Institute menilai kebijakan Trump “kurang didukung diplomasi jangka panjang”.

Serangan-serangan Amerika Serikat sepanjang 2025 menunjukkan kebijakan luar negeri Washington masih sangat bergantung pada kekuatan militer.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default