Tiga Dekade Menanti Pengendalian Banjir Batang Kuranji Padang

Erlita Irmania
By -
0

Warga Batang Kuranji Terancam Hanyut Akibat Aliran Sungai yang Berubah

Warga di kawasan Batang Kuranji, Kota Padang, Sumatera Barat, mengungkapkan bahwa sejak era 1990-an, pemerintah pernah berjanji akan melakukan pembangunan program pengendalian banjir. Namun, hingga saat ini, janji tersebut belum terwujud. Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu mengubah alur sungai yang sebelumnya jauh dari permukiman. Kini, aliran Sungai Batang Kuranji semakin mendekati rumah-rumah warga dan terus menggerus tanah di sekitarnya.

Onang, salah satu warga di kawasan Tabing Kampung Koto, Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, mengatakan bahwa ia terpaksa bertahan di rumahnya yang berjarak sekitar tiga meter dari bibir sungai. Ia tidak memiliki pilihan lain karena tidak ada tempat lain untuk tinggal. Onang mengingat bahwa sejak masa remajanya, pemerintah pernah menyampaikan rencana pengendalian banjir di kawasan tersebut. Namun, hingga hari ini, rencana itu belum terealisasi.

“Dulu, waktu saya masih remaja, pemerintah pernah berjanji akan membuat pengendalian banjir. Sampai sekarang saya sudah tua, belum juga ada. Sekarang rumah saya pun sudah hampir rubuh,” ujarnya. Ia berharap pemerintah segera mengambil langkah antisipasi agar aliran Batang Kuranji tak kembali menghanyutkan rumahnya, maupun rumah-rumah warga lain yang bertahan di tepi sungai.

Alur Sungai yang Berubah

Banjir bandang yang terjadi pada akhir November 2025 lalu mengubah alur sungai yang sebelumnya jauh dari permukiman. Kini, aliran Sungai Batang Kuranji justru semakin mendekati rumah-rumah warga dan terus menggerus tanah di sekitarnya. Pantauan Erfa News menunjukkan bahwa sedikitnya dua unit rumah berada dalam kondisi paling mengkhawatirkan. Jarak rumah dengan bibir sungai hanya sekitar satu hingga tiga meter.

Struktur tanah di bawah bangunan tampak tidak rata dan terus terkikis arus sungai. Satu rumah diketahui telah dikosongkan oleh pemiliknya, sementara satu rumah lainnya masih dihuni oleh satu keluarga meski berada dalam kondisi rawan. Salah seorang warga, Juli, mengatakan bahwa sejak banjir bandang terjadi, air sungai terus menggerus tepian permukiman.

Bahkan, sejak peristiwa tersebut hingga kini, tercatat sekitar empat unit rumah telah roboh dan hanyut terbawa arus. “Dulunya aliran sungai itu jauh dari rumah kami. Setelah banjir bandang, alirannya berubah mendekat ke sini dan menggerus tanah di bawah rumah. Sejak kejadian itu, sekitar empat rumah sudah hanyut,” ujar Juli.

Warga Mulai Kosongkan Rumah

Rumah milik Juli yang sebelumnya dihuni oleh orang tuanya kini telah dikosongkan. Seluruh barang-barang berharga sudah dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Meski demikian, Juli mengaku masih terus memantau kondisi rumahnya dari kejauhan. “Sayang rasanya, dari dulu kami tinggal di sini. Sekarang rumah sudah terancam seperti ini. Kami takut rumah ini tiba-tiba rubuh dan hanyut,” katanya.

Ia pun berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan rumah warga dari ancaman abrasi sungai. “Kami sangat memohon bantuan pemerintah. Kalau belum bisa membangun pondasi penahan, setidaknya aliran sungainya bisa diarahkan agar tidak terus menggerus ke sini,” tambahnya.

Air Sungai Meluap

Daerah Aliran Sungai (DAS) Kuranji meluap menyebabkan ratusan warga di Kelurahan Tabing Banda Gadang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar), terpaksa mengungsi akibat banjir susulan, Jumat (2/1/2026). Pantauan Erfa News di Perumahan Griya Kubu Tama hingga pukul 10.00 WIB menunjukkan hujan lebat masih mengguyur kawasan tersebut. Genangan air setinggi pinggang orang dewasa masih merendam pemukiman warga.

Perumahan Griya Kubu Tama diketahui berada tidak jauh dari aliran Sungai Batang Kuranji, dengan jarak sekitar 100 hingga 200 meter. Sejumlah warga tampak mengungsi ke tempat yang lebih aman sambil memantau kondisi rumah mereka dari pos ronda yang posisinya lebih tinggi dari kawasan perumahan.

Salah seorang warga, Nelmawati (40), mengatakan hujan mulai turun sejak Kamis (1/1/2026) sekitar pukul 20.00 WIB. Dua jam kemudian, air mulai masuk ke kawasan perumahan dan terus meningkat hingga Jumat pagi. “Sejak tadi malam setelah salat Isya hujan mulai lebat. Sekitar pukul 22.00 WIB air mulai naik. Sampai sekarang hujan belum reda dan air juga terus bertambah,” ujarnya.

Menurut Nelmawati, sedikitnya lebih dari 40 rumah di perumahan tersebut terdampak banjir. Namun, warga telah melakukan evakuasi mandiri lebih awal karena banjir kerap berulang terjadi di kawasan itu. “Alhamdulillah semua warga aman. Karena banjir sudah sering terjadi, masyarakat sudah stand by. Begitu air naik, langsung mengungsi ke tempat aman,” katanya.

Ia menambahkan, sebagian warga sebelumnya sempat kembali ke rumah setelah membersihkan sisa banjir. Namun, hujan lebat yang kembali turun memaksa mereka mengungsi lagi. Nelmawati juga menjelaskan, pasca banjir bandang pada akhir November 2025 lalu, aliran Sungai Batang Kuranji dipenuhi lumpur dan sedimen. Kondisi tersebut menyebabkan sungai mudah meluap meski hujan hanya turun selama beberapa jam.

Selain itu, posisi perumahan yang lebih rendah dan hampir sejajar dengan permukaan sungai turut memperparah dampak banjir. Kiriman air dari drainase di kawasan yang lebih tinggi juga mengalir ke permukiman warga. “Posisi perumahan ini memang lebih rendah. Air dari bagian atas semuanya mengalir ke sini, ditambah posisi sungai hampir sama tinggi dengan perumahan, jadi banjir gampang terjadi,” jelasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default