Rayuan dosen UNIMA ke Evia Maria Mangolo di mobil, pura-pura tanya nilai, semua orang punya salah

Erlita Irmania
By -
0
Ringkasan Berita:
  • Rayuan dan godaan dosen UNIMA pada Evia Maria Mangolo di dalam mobil, buat sang mahasiswi ketakutan.
  • Sebelum meninggal dunia, Evia sempat menuliskan surat pengaduan yang berisi kronologi dugaan pelecehan yang dialaminya.
  • Evia juga menuliskan bahwa setelah kejadian itu, ia mengalami trauma mendalam, rasa takut bertemu dengan dosen tersebut

Erfa News - Ucapan dan tindakan seorang dosen Universitas Negeri Manado (UNIMA) terhadap mahasiswinya, Evia Maria Mangolo, menjadi sorotan setelah mahasiswi berusia 21 tahun itu ditemukan meninggal dunia. 

Fakta tersebut terungkap dari sebuah surat yang ditulis Evia pada 16 Desember 2025, beberapa waktu sebelum kematiannya.

Dalam surat itu, Evia mengungkapkan tekanan psikologis berat yang dialaminya akibat dugaan pelecehan yang dilakukan oleh dosen bersangkutan.

Surat yang Ditulis oleh Evia Maria Mangolo

Sebelum meninggal dunia, Evia sempat menuliskan surat pengaduan yang berisi kronologi dugaan pelecehan yang dialaminya.

Dalam surat tersebut, Evia menceritakan bahwa peristiwa bermula pada Jumat, 12 Desember 2025, saat dosen bernama Danny menghubunginya melalui pesan singkat dan meminta korban untuk memijatnya.

Evia mengaku menolak permintaan tersebut karena merasa hal itu tidak pantas dan bukan bagian dari kewajibannya sebagai mahasiswa. 

Evia mengaku merasa takut, tertekan, dan dilecehkan secara verbal maupun fisik, hingga akhirnya berusaha keluar dari situasi tersebut.

'Pada hari Jumat tanggal 12 Desember, sekitar jam satu siang Mner Danny chat ke saya, beliau bertanya kepada saya kalau saya bisa urut ke dia.

Saya jawab "Maria tidak tau ba urut Mner" Mner bilang Mener capek sekali. Dalam pikiran saya itu bukan hak saya untuk melayani dia seperti itu.

Sebelumnya ada percakapan di chat yang mana beliau bilang ke saya begini "Jangan bila pa harikedua kalau mo pijit pa Mner"

Kebetulan saya bersama teman saya Deisye, Hari kedua dan Refina Bawale lagi duduk di food court kampus.

Saya kasih baca chat saya dari Mner Danny ke Deis, mereka berdua bilang ke saya jangan pergi, tapi Mner danny sudah mengalihkan pembicaraan menyangkut rekapan nilai, yang sebenarnya sudah daya selesaikan itu.

Tapi karna saya pikir ada yang akan diubah, saya berpikir untuk pergi ke Mner Danny di depan parkiran mmobil Kampus.

Sebelum saya pergi tepatnya jam 19.20 saya sudah live location di grup WA saya dan teman saya Radina d Deisye.

Dosen Minta Dipijat di Mobil

Setelah saya sampai di tempat parkiran, beliau menyuruh saya untuk naik ke mobilnya, saya pun naik dan saya bertanya kepada beliau bahwa saya ke sini mau ngapain ada yang mau diubah nilainya? terus beliau hanya bilang Mner capek sekali.

Saya chating ke teman saya kalau semisal mobilnya jalan, kalian pantau terus saya di live locatio. Kebetulan hp saya batrenya sedikit sekali jadi saya semakin takut.

Saya bilang ke teman saya jika hp saya tidak aktif live location kalian ikut saya naik indriver, mobil sudah jalan sampai samping pascasarjana beliau berhenti. Beliau memaksa saya untuk duduk di depan. Saya menolak perintah tersebut.

Di situ saya mulai ragu dengan Mner saya takut diapa-apain sama beliau.

Saya bilang ke beliau kalau saya mau duduk di depan saya mau lewat pintu saja (di situ saya berpikir kalau beliau menyiakan membuka pintu pasti saya sudah lari situ, karna saya sudah takut dan tidak tau harus berbuat apa.

Beliau memaksa saya pindah di depan dengan melangkah saja, posisi saya pakai rok, setelah saya sudah di depan mobilnya jalan lagi sampai depan prodi psikologi, di situ beliau sudah menurunkan sedikit kursinya seperti berbaringm, saya disuruh urut.

Saya bilang nda tau ba urut (tidak bisa urut). Dikasih contoh oleh mner begini sapu-sapu saja (posisi tangannya sudah mengusap-usap belakang saya). 

Semakin tidak nyamannya saya tangan beliau tanpa izin dia meletakannya di paha saya sambil bicara kalau urut itu enaknya sambil tidur terus saya di belajang, beliau kembali bertanya "Ia tau ba urut perasaan, dengan

spontan saya bilang tidak tau, beliau menjawab "nanti kasi ajar" Katanya urut perasaa itu urut yang akan saya pegang di area tertentu, beliau bertanya kembali contohnya kalau beliau sudah salah pegang saya ikhlas atau tidak, saya bilang tidak mner ini sudah lewat batas.

Tapi beliau dengan pikiran kotornya hanya menjawab "oh yang penting so kasi tau.

Kata beliau Jumat tanggal 19 dia akan ke sini memberikan ujian kepada guru2 saya pun diajaknya tapi saya tidak mau. Mener bilang ke saya "Ia kita smo menghayati kalau so satu kamar kita mo bapelo"

Saya bilang Mner ini sudah kelewatan tapi dengan pikirannya yang biadap beliay hanya berkata "Nda apa-apa torang manusia semua pasti ada kesalahan, jadi kalau sudah terjadi ya terjadi no"

Di situ saya semakin jijik dan sudah tidak tahan dikurung dalam mobil tersebut,

Dicium Paksa Saat di Mobil

Saya bilang saya mau pulang ada teman yang sudah menunggu, terus beliau menjawab oh iya maaf Mner so keenakan mobil belum jalan, beliau bertanya

bisa mo dicium, saya bilang tidak mner ini sudah lewat batas. Saya sudah takut sambil menangis tapi saat saya menangis beliau tidak melihat. Tiba-tiba beliau sudah menarik pipi untuk diciumnya (mencium saya).

Posisi tangan kiri saya pakai untuk menutup mulut saya dan tangan kanan saya mendorong mner.

Terus dia bilang 'bibir nda'. Saya bilang tidak mau. Mobil sudah jalan ketemu 2 satpam Mner hanya menurunkan kaca mobilnya sedikit dan bertegur sapa dengan kedua bapak tersebut.

Mener tersenyum dia bilang mereka kira saya sendirian saya padahal lagi bersama Maria dari sore 15.03 saya samapi di prodi PGSD

Di situ saya semakin benci sama Mner. Karena dengan perilakunya tidak mencerminkan dia adalah dosen

Pada saat itu beliau berkata bahwa dia adalah dosen yang paling bahagia

Pada tanggal 16 Desember beliau chat saya tapi saya tidak meresponnya

Bukti chat pada tanggal 12 itu sudah terhapus karena chatnya pakai batas waktu dan sudah tidak sempat saya simpan dan ada yang sudah saya ss chat tanggal 16.

Saya tidak dapat merekan waktu di mobil karena hp saya baterainya sedikit. Saya takut kalau maati dan posisi hp saya jatuh

Tujuan pengaduan ini, melalui surat ini, saya memohon agar pihak pimpinan dapat menangani masalah ini, kalau bisa kasi sanksi kepada Mner Danny jangan dibiarkan orang seperti itu.

Dampak yang saya dapat adalah trauma dan ketakutan, saya takut bila bertemu Mner Danny, saya malu jika ada mahasiswa yang melihat saya turun atau naik di mobilnya, akan jadi pembicaraan.

Saya tertekan dengan masalah tersebut.

Atas perhatian dan tindak lanjut Bapak, saya ucapkan terimakasih'.

Evia juga menuliskan bahwa setelah kejadian itu, ia mengalami trauma mendalam, rasa takut bertemu dengan dosen tersebut, serta tekanan mental akibat rasa malu dan kecemasan akan pandangan lingkungan sekitarnya.

Ia mengaku tidak lagi merespons pesan dari dosen tersebut setelah 16 Desember 2025.

Dalam penutup suratnya, Evia memohon kepada pihak pimpinan kampus agar menindaklanjuti pengaduan tersebut dan memberikan sanksi tegas kepada dosen yang bersangkutan. Ia berharap kejadian serupa tidak menimpa mahasiswa lain.

Surat tersebut kini menjadi salah satu dokumen penting dalam penelusuran dugaan pelecehan yang dialami Evia Maria Mangolo sebelum meninggal dunia.

(Erfa News/Talitha)
Jangan lewatkan berita-berita Erfa Newstak kalah menarik lainnya di Google News, Threads, dan Facebook

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default