Dolly Tanpa Lokalisasi: Satu Dekade Transformasi Kampung

Erlita Irmania
By -
0
Dolly Tanpa Lokalisasi: Satu Dekade Transformasi Kampung

Satu Dekade Pasca Penutupan, Eks Lokalisasi Dolly Surabaya Bertransformasi Menjadi Sentra UMKM yang Berkembang

Sepuluh tahun telah berlalu sejak Pemerintah Kota Surabaya mengambil langkah tegas menutup lokalisasi Dolly, sebuah kawasan yang dulunya identik dengan prostitusi. Kini, gang-gang yang dulunya identik dengan aktivitas kelam tersebut telah bertransformasi menjadi denyut kehidupan ekonomi yang baru. Jalan Kupang Gunung Timur Gang 7, Putat Jaya, Sawahan, Surabaya, yang membentang hampir satu kilometer dengan lebar jalan sekitar enam meter, kini dipenuhi berbagai Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang dikelola oleh warga setempat maupun pendatang.

Ragam Usaha yang Mendominasi

Transformasi ini terlihat jelas dari berbagai jenis usaha yang bermunculan. Mulai dari warung kelontong, bengkel, pangkas rambut, warung kopi (warkop), hingga warung makan, semuanya hadir mengisi ruang-ruang yang sebelumnya kosong atau beralih fungsi. Kehadiran objek vital pendidikan seperti sekolah anak berkebutuhan khusus dan taman kanak-kanak atau pendidikan usia dini turut menambah dimensi baru pada kawasan ini.

Namun, di tengah geliat UMKM, beberapa bangunan di kawasan tersebut masih menunjukkan jejak masa lalu. Papan besi bertuliskan informasi kepemilikan oleh Pemkot Surabaya terpasang di beberapa lokasi. Salah satunya, di dekat pabrik pembuatan sandal hotel dan selimut hotel yang dikelola Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mampu Jaya. Bangunan ini dulunya merupakan wisma lokalisasi terbesar yang dikenal dengan nama New Barbara.

Tanda kepemilikan Pemkot Surabaya juga terlihat di depan bangunan dua lantai berdinding biru muda. Bangunan ini kini difungsikan sebagai Pos PAUD Terpadu dan Kelompok Belajar (KB) Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Nusantara Kita, berlokasi tepat di seberang pintu gerbang gang kecil Jalan Putat Jaya C Timur Gang V.

Potensi Museum dan Pemanfaatan Bangunan Kosong

Salah satu bangunan bekas wisma di tengah gang, berukuran sekitar 5 m x 5 m, kini tampak tak berpenghuni. Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Wisata Dolly, Budhi Christiadi, mengungkapkan bahwa bangunan tersebut masih kosong sejak lokalisasi ditutup. Ada informasi yang beredar bahwa bangunan ini akan dimanfaatkan sebagai museum, namun detail waktu pembangunannya masih belum jelas.

"Gedung yang kosong dan sudah dikuasai pemkot, ada informasi buat museum. Saya juga bingung," ujar Budhi, yang berprofesi sebagai guru olahraga.

Tak jauh dari bangunan kosong tersebut, di seberangnya, berdiri Pasar Burung yang dulunya merupakan bangunan Wisma Barbara. Pasar ini terbagi menjadi tiga area. Area pertama, yang berbatasan langsung dengan teras parkir motor dan mobil, memiliki delapan ruangan toko berukuran 4 m x 3 m. Atap asbes yang disusun dengan rangka besi hitam memberikan suasana teduh pada area seluas sekitar 15 m x 5 m ini.

Sentra Produksi Meja Biliar dan Mesin Es Batu Kristal

Di area lorong tengah gang toko Pasar Burung, dimanfaatkan sebagai garasi produksi meja biliar oleh Muhammad Mustofa Tanro (51), warga asli Putat Jaya. Aktivitas pembuatan meja biliar masih terlihat ramai, melibatkan anak kandung Mustofa dan tiga karyawannya. Mustofa juga memiliki bengkel produksi khusus yang terhubung dengan rumahnya di Jalan Putat Jaya C Timur III. Bisnis meja biliar ini telah digelutinya sejak tahun 2002, sempat vakum, dan kembali ditekuni sejak 2014. Karyanya bahkan telah tersebar di seluruh Indonesia.

Selanjutnya, di area dekat pintu gerbang utama Gang Dolly, terdapat usaha padat karya pembuatan mesin penyimpanan es batu kristal. Usaha ini memanfaatkan area kosong yang dulunya merupakan lapangan warga. Menurut salah satu karyawan, Effendy (51), proses riset dan percobaan pembuatan mesin ini telah berlangsung selama dua tahun, dengan beberapa kali kegagalan sebelum akhirnya menemukan solusi melalui pembelajaran online, seperti tutorial di YouTube dan forum grup Facebook.

Usaha ini mempekerjakan sekitar 20 orang warga asli Putat Jaya atau eks warga Dolly, termasuk mereka yang tergabung dalam Karang Taruna. Keterampilan para teknisi dan pekerja menjadi kunci kelancaran produksi. Dalam sebulan, mereka mampu memproduksi sekitar 7-10 mesin dengan berbagai ukuran. Pangsa pasarnya masih didominasi wilayah Jawa Timur, khususnya daerah perdesaan. Pemesanan dapat dilakukan langsung di lokasi pembuatan mesin di Jalan Kupang Gunung Timur Gang 7 No 18, di mana calon pembeli dapat melihat langsung proses produksi dan bernegosiasi harga.

Kebutuhan Pendampingan Stakeholder

Meskipun UMKM di eks lokalisasi Dolly menunjukkan perkembangan positif, para pelaku usaha ini sangat mengharapkan adanya pendampingan berkelanjutan dari Pemerintah Kota Surabaya. Effendy mengungkapkan bahwa bantuan dari Pemkot sangat dibutuhkan untuk memperluas pangsa pasar dan meningkatkan penjualan. Ia bahkan memiliki impian untuk menjangkau pasar luar negeri.

"Iya butuh bantuan, pasti, dari pemkot atau apa, segala macam. Kami kan ada jahitan, sepatu. Sini warga berusaha mandiri. Bisnisnya ya (pengrajin) meja billiar, pasar burung, sepatu, jahit pakaian. Toko kelontong juga banyak. Itu usaha orang. Pastinya kami selalu minta pendampingan (Pemkot Surabaya)," ujarnya.

Beberapa UMKM rintisan warga Dolly ditampung di Pasar Burung, termasuk pengrajin meja biliar, sepatu kulit, hingga butik pakaian. Setiap pekan, selalu ada kegiatan yang melibatkan bantuan dari pendampingan mahasiswa.

Pendidikan Pendampingan untuk Anak-anak

Di sisi lain, inisiatif positif juga datang dari dunia pendidikan. Kepala Sekolah Budaya, Elsa Nabila (22), telah menyelenggarakan pendampingan pendidikan terhadap anak-anak warga permukiman eks Dolly sebanyak tujuh kali, memanfaatkan area tengah aula di Bangunan Pasar Burung. Program ini bertujuan untuk menanamkan pengembangan karakter pada anak-anak berusia 5-15 tahun melalui berbagai metode seperti pementasan, menulis, mewarnai, permainan tradisional, dan mengasah keterampilan berwirausaha.

Kegiatan ini melibatkan kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Polda, mahasiswa magang, dan Binar Community. Program pendampingan ini direncanakan akan berlangsung hingga tahun 2026, dengan melibatkan sekitar 35 anak-anak dan 12 pengurus.

Evaluasi untuk Kemajuan UMKM dan Wisata Edukasi

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan bahwa Pemerintah Kota Surabaya terus melakukan evaluasi agar sentra UMKM dan wisata edukasi di eks lokalisasi Dolly kembali ramai. Tujuannya adalah agar warga memiliki kegiatan yang positif dan produktif. Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah dan Perdagangan (Dinkopumdag) Kota Surabaya ditugaskan untuk mengevaluasi seluruh Sentra Wisata Kuliner (SWK) dan UMKM di kawasan tersebut.

"Jika tempatnya sepi, maka jenis dagangan (komoditas) harus diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar," tegas Eri.

Program wisata edukasi di eks Kampung Dolly juga akan dihidupkan kembali melalui kolaborasi dengan Karang Taruna dan komunitas pemuda setempat. Komitmen ini sejalan dengan rencana alokasi anggaran sebesar lima juta rupiah pada tahun 2026 untuk anak-anak Gen Z di masing-masing wilayah guna menggerakkan wisata edukasi lokal.

"Kami tidak ingin Pemkot yang menggerakkan, tapi pemuda di sana (Karang Taruna) yang menempati dan menggerakkan wisata edukasinya supaya mereka juga ikut memiliki dan menjaga," pungkasnya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default