5 fakta mengenai gas tawa yang viral dan disalahgunakan remaja

Erlita Irmania
By -
0

Penggunaan Nitrous Oxide yang Viral di Kalangan Remaja

Belakangan ini, isu mengenai penggunaan nitrous oxide atau dikenal juga sebagai "gas tawa" menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Meskipun tren ini sudah viral sejak 2022 lalu di Amerika Serikat, kini semakin banyak orang mulai memperhatikan dampaknya terhadap kesehatan remaja. Gas yang secara legal digunakan dalam industri kuliner sebagai pendorong whipped cream serta untuk keperluan medis ini disalahgunakan oleh kalangan muda untuk mencari efek euforia sesaat.

Penggunaan gas tawa ini semakin populer di kalangan mahasiswa dan remaja karena mudah diperoleh dan memberikan efek cepat. Namun, penyalahgunaan tanpa pengawasan medis dapat menyebabkan risiko serius seperti hipoksia, gangguan saraf, hingga komplikasi medis lainnya. Berikut adalah informasi lengkap mengenai fakta tentang gas tawa.

Awal Mula Viral Gas Whipped Cream Disalahgunakan sebagai Gas Tawa

Pada tahun 2022, banyak remaja di Amerika Serikat mengikuti tren rekreasional dengan menggunakan nitrous oxide. Senyawa ini umum digunakan dalam bidang medis sebagai anestesi, namun saat itu ramai dibahas di media sosial karena disalahgunakan oleh sejumlah remaja untuk mencari sensasi mabuk sesaat. Produk yang awalnya diperuntukkan sebagai krim kocok makanan justru menjadi laris di pasaran dan mudah diakses oleh anak di bawah umur.

Fenomena ini membuat pemerintah setempat, khususnya New York, khawatir akan efek samping penggunaan nitrous oxide tanpa pengawasan medis. Untuk merespons tren negatif ini, Pemerintah Negara Bagian New York mengambil langkah tegas dengan melarang penjualan krim kocok kalengan kepada siapa pun yang berusia di bawah 21 tahun. Selain itu, toko wajib melakukan pemeriksaan identitas pembeli dan memberikan sanksi bagi pelanggar.

Gas Tawa Selalu Dicampur Oksigen untuk Anestesi di Bidang Medis

Dalam unggahan Instagramnya, dr. Dion Haryadi menjelaskan bahwa nitrous oxide atau N2O pada dasarnya digunakan dalam dunia medis. Gas ini umum digunakan dalam bidang anestesi, tetapi dalam dosis dan monitoring ketat. “Penggunaan N2O sebagai obat anestesi selalu dicampur dengan oksigen dan diatur dosisnya,” jelas dr. Dion di video yang diunggahnya.

Bahaya Nitrous Oxide Jika Disalahgunakan, Bisa Hipoksia

Dr. Dion menjelaskan bahwa kandungan N2O memiliki efek sedatif ringan yang membuat seseorang bisa tenang dan merasa melayang. Ini pula yang membuat gas ini disebut sebagai laughing gas atau gas tawa. Penggunaan dengan pengawasan sebenarnya tidak bermasalah, namun jika sudah melampaui batas bisa menyebabkan hipoksia.

“Penggunaan sesekali (dalam pengawasan) tidak terlalu bermasalah, namun penggunaan kronis dan rutin dalam jangka panjang bisa menyebabkan masalah kesehatan. Mulai dari gangguan saraf seperti kesemutan, gangguan keseimbangan, kerusakan persarafan, gangguan mood sampai pingsan dan hipoksia (tubuh kekurangan oksigen),” tuturnya.

Selain itu, laporan kesehatan menunjukkan bahwa penggunaan kronis nitrous oxide dapat mengganggu metabolisme vitamin B12. Kekurangan B12 jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan saraf, kesemutan, kelemahan otot, dan penurunan koordinasi kondisi yang jauh lebih serius dibandingkan sensasi ringan yang dicari para remaja.

Pengawasan dan Pemahaman Orangtua Diperlukan untuk Edukasi Remaja

Karena nitrous oxide sering dianggap ringan atau legal, banyak remaja yang salah kaprah dan memandangnya sebagai aktivitas yang aman. Padahal, banyak ahli membahas mengenai bahaya gas ini jika disalahgunakan. Orangtua diharapkan aktif berdiskusi dengan anak mereka tentang bahaya gas ini, termasuk efek fisik dan psikologis yang mungkin terjadi jika disalahgunakan.

Bukan hanya soal melarang, tetapi juga menjelaskan bahwa meskipun penggunaan medis nitrous oxide aman di bawah pengawasan dokter, penggunaan rekreasional tanpa kontrol dapat menyebabkan asfiksia, kerusakan saraf, hingga kecelakaan. Orangtua juga dianjurkan untuk memantau pergaulan dan penggunaan media sosial anak yang bisa memicu tren berbahaya ini, serta menyampaikan informasi yang benar agar remaja memahami risikonya secara jelas.

Tren Media Sosial Mempengaruhi Remaja Menyalahgunakan Gas N2O

Viralnya nitrous oxide sebagai gas tawa tidak lepas dari peran media sosial, terutama platform berbasis video pendek di mana tren ekstrem sering tersebar cepat tanpa narasi risiko. Tren ini marak dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 2022 dengan galaxy gas trent-nya saat itu. Para remaja menggunakan galon sebagai medium untuk menghirup gas N2O dari tabung. Di konten yang tersebar, remaja melihat teman sebayanya menampilkan sensasi euforia dari gas.

Bahan gasnya untuk whipped cream, sehingga banyak dari mereka menganggapnya aman dan tanpa konsekuensi, sehingga memicu imitasi tanpa memahami efek berbahaya yang menyertainya. Fenomena ini diperparah oleh algoritma yang cenderung menampilkan konten ekstrem berdasarkan popularitasnya, bukan validitas medisnya. Para pakar kesehatan remaja dan psikolog anak menyarankan agar orangtua dan pendidik lebih aktif mendampingi serta menjelaskan konteks ilmiah yang benar terhadap tren kesehatan viral, sehingga remaja tidak terjebak pada informasi yang salah atau berbahaya.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default