5 Mitos HIV/AIDS yang Sering Dipercaya, Kamu Termasuk?

Erlita Irmania
By -
0

Penyebab dan Mitos Tentang HIV/AIDS yang Perlu Diketahui

HIV (human immunodeficiency virus) masih menjadi penyakit yang menakutkan di kalangan masyarakat. Di Indonesia, HIV/AIDS termasuk penyakit yang cukup populer, tetapi pengetahuan tentang penyakit ini masih rendah. Virus ini menginfeksi dan menyerang sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia. Di kalangan masyarakat, HIV/AIDS sering dianggap sebagai penyakit kotor dengan konotasi negatif lainnya. Akibatnya, banyak pasien mendapatkan perlakuan buruk, mulai dari dipandang rendah hingga dikucilkan.

Minimnya pengetahuan tentang HIV/AIDS membuat mitos berkembang dengan mudah. Berikut adalah beberapa mitos umum yang sering dikaitkan dengan HIV/AIDS:

1. Mitos: HIV dan AIDS adalah penyakit yang sama


Mitos pertama yang dipercaya banyak orang adalah bahwa HIV dan AIDS adalah dua penyakit yang sama. Nyatanya, meski keduanya punya keterikatan satu sama lain, HIV dan AIDS adalah dua hal yang berbeda. HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Ketika memasuki tubuh, virus ini akan menyerang sel darah putih yang juga dikenal dengan nama sel T CD4. Sedangkan AIDS merupakan kondisi tahap akhir dari HIV. Biasanya terjadi pada penderita HIV yang tidak mendapatkan perawatan memadai selama 8 hingga 10 tahun.

2. Mitos: Bersentuhan dengan penderita HIV akan membuat kita tertular


Salah satu hal yang ditakuti banyak orang ketika berdekatan dengan penderita HIV adalah tertular. Namun, HIV bukanlah penyakit yang menular melalui udara atau sentuhan biasa. Kamu tidak akan tertular HIV jika hanya berjabat tangan, berpelukan, atau bicara dengan penderita HIV. Virus ini menular melalui cairan tubuh seperti darah, air mani, cairan vagina, ASI, dan cairan dubur dari orang yang terinfeksi.

3. Mitos: Penyakit HIV bisa dideteksi dari penampilan


Salah satu mitos lain yang sering dipercaya adalah kita bisa menilai seseorang terkena HIV atau tidak hanya dari penampilannya. Faktanya, seseorang bisa mengidap HIV selama bertahun-tahun tanpa ada gejala apa pun. Jika ada, biasanya gejala yang muncul justru mirip gejala flu biasa. Penderita akan mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, munculnya ruam di kulit, sakit tenggorokan dan sariawan yang parah, pembengkakan kelenjar getah bening, diare, batuk, penurunan berat badan, hingga berkeringat malam.

4. Mitos: HIV hanya menyerang orang dengan orientasi seksual tertentu


Banyak orang beranggapan bahwa HIV hanya bisa menginfeksi golongan tertentu aja, misalnya kaum LGBT. Namun, sama seperti kebanyakan penyakit, HIV tidak pandang bulu dalam mencari korban. Gak peduli usia, gender, ras, atau etnis, semua orang bisa terkena HIV. Meskipun laki-laki yang melakukan hubungan seksual dengan pria memiliki risiko lebih tinggi terkena HIV, mayoritas penderita tertular melalui hubungan heteroseksual antara laki-laki dan perempuan.

5. Mitos: Orang yang menderita HIV gak bisa hidup lama


Banyak orang beranggapan jika seseorang terinfeksi HIV, maka hidupnya akan segera berakhir. Namun, saat ini orang yang terinfeksi HIV bisa hidup panjang hingga tua. Pengobatan seperti Antiretroviral Therapy (ART) dapat membantu menekan aktivitas virus dan meningkatkan kekebalan tubuh. Orang yang baru terpapar HIV dan menyadarinya dengan cepat, bisa mencegah perkembangan virus dengan menggunakan Post-Exposure Prophylaxis (PEP).

Topik pembicaraan mengenai HIV sering dianggap sebagai hal yang tabu di kalangan masyarakat. Seolah-olah kita akan tertular hanya dengan membahasnya. Benar bahwa HIV itu menular, dan karena belum ada obatnya, orang yang menderita HIV harus melakukan perawatan seumur hidup. Namun justru inilah tepatnya kenapa edukasi mengenai HIV jadi lebih penting. Semakin banyak yang kita tahu mengenai penyakit ini, akan semakin baik. Bukan hanya bagi penderitanya itu sendiri, tapi juga baik untuk masyarakat luas yang masih awam mengenai penyakit satu ini.

Posting Komentar

0 Komentar

Posting Komentar (0)
3/related/default